Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpen

Langgar Pengajian - Eps. 01

Suatu ketika, ada seorang ustadz yang telah tiba kembali ke tanah air, dari perjalanan haji di mekkah sekaligus menuntut ilmu di sana. Sepulangnya dari sana, beliau membawa bekal pengetahuan dan kepribadian baru, yang dulu belum dimiliki olehnya. Dengan berbekal ilmu pengetahuan dan kepribadian baru itu, beliau bersiap untuk mendakwahkan apa yang sudah didapatnya di masyarakat sekitar, di tanah air. Setelah beberapa saat berdakwah, ia diberikan amanah oleh orang tuanya, untuk melanjutkannya dalam mengurus sebuah langgar. Dalam bahasa sehari-hari, langgar biasa di sebut juga sebagai mushola atau tempat ibadah bagi umat muslim, tapi ukurannya kecil. Langgar itu terlihat sangat sederhana. Jika melihat dindingnya, sangatlah sederhana. Dindingnya tak lebih dari lembaran-lembaran bambu yang dirajut menjadi satu. Tiangnya, juga sama. Terbuat dari bambu. Kemudian lantainya, juga terbuat dari anyaman rangkaian kau dan bambu. Bahkan atapnya pun sangat sederhana, terbuat juga dari ba...

Dunia dalam drama

“hallo all..., hari ini gue lagi dilanda kebingungan yang mendalam, yaitu   bingung terhadap diri gue sendiri. Aneh kan???, yah itulah kenyataannya. kali ini gue mau sharing sama kalian semua mengenai dunia ini, mulai dari dunia yang gelap, dunia anime, dan dunia kebenaran. Kenapa kok ngebahas dunia yah??, karena gak sedikit dari kita yaitu kaum muda yang masih belum mengenal dunia ini dengan baik. Terkadang kita berperilaku ngawur terhada sesuatu yang belum kita kenal, contoh simpelnya sih,”saat kita pertama kali bertemu dengan preman/anak punk di pinggir jalan atau di terminal terminal biasanya kita akan cendrung menghindari mereka, karena kita khawatir atau takut mereka akan menyerang kita atau berlaku sesuatu yang tidak baik terhadap kita. Lantas, apakah memang benar kenyataanya semua anak punk/preman akan selalu menyakiti kita atau menyerang bahkan menodong kita?, jawabannya tidak teman teman. Kenapa jawabannya tidak? Karena memang kenyataannya tidak seperti itu. Mungkin ata...

KAMI TAK AKAN MEYERAH

KAMI TAK AKAN MEYERAH  Oleh Y usuf Jaka Laksana        Hampir setiap hari kota kami diserang negara lain yang ingin merebut kekuasaan negara kami. Kami tak pernah tidur agar bisa hidup tenang . Pertempuran perbatasan semakin hari semakin memanas. Semua orang di negara kami adalah saudara kami.        Aku salah satu korban dari peperangan itu. Hampir setiap hari aku mendengar jeritan , tangisan , disertai ledakan bom yang begitu mengerikan. Aku terpisah dari keluargaku akibat serangan bom yang menimpa rumah kami. Saat itu aku sedang berada dalam kamar , menangis ketakutan, sedangkan kedua orangtua ku sedang berada di luar rumah. Aku mencoba melompat dari jendela kamarku . aku berlari dari ketakutan.        Semakin hari usiaku semakin bertambah , tapi aku masih saja belum menemukan kedua orangtua ku. Saat usiaku meranjak dewasa aku mulai coba untuk menggenggam senjata menghadapi sebuah pertempuran. Ingin rasanya aku...

Selembar kertas yang tak pernah sampai

Selembar kertas yang tak pernah sampai Oleh Wahyu Handoyo “Kita udah sampai di supermarket nih, kamu kok tumben sih ngajak aku ke sini” tanya wirda dengan dahi mengkerut “Kamu tahu tempat buah-buahan dimana?” jawabku mengacuhkan pertanyaan wirda, dengan wajah kesalnya karena aku hiraukan, wirda menarik tanganku ke tempat buah-buahan,  “Ini tempatnya, kamu mau apasih sebenernya?” kata wirda dengan nada tinggi, 

HARAPAN YANG TERCAPAI

HARAPAN YANG TERCAPAI Oleh Aditya Yulistyo Angin berhembus meniup dedaunan dan ranting,disebuah pohon yang besar aku bersandar melihat langit yang cerah dan membayangkan sebuah harapan yang harus aku gapai. ya.. aku mempunyai harapan yang sangat besar yaitu menjadikan sebuah sekolah yang bersih dari sampah Tapi entah harus bagaimana awal nya, tapi aku berfikir kalau harapan  ini aku tekunkan besar,kecil panjang,pendek resiko aku akan semangat untuk menjalaninya dan membuat  harapan membuat sebuah kota yg bersih dari sampah-sampah akan berhasil

Langit Merah

Langit Merah Oleh  Donny Prakarsa Utama                 Senja hari yang indah, masih kusibukkan hari dengan bunga yang merkah, ditemani dengan mentari yang hampir terbenam, biar pun senja aku merasa seperti pagi, semilir angin timur menyapa mengingatkan pada kehangatan pagi. Tapi aku bahagia, walau aku tak senang-senang, aku bahagia karena aku terjaga dari kegelapan malamku, biarlah mereka yang tak mau dengar seruan kebenaran tersesat dalam kesenangan di pagi hari, Meski awalnya hampir ku rusak susu sebelangga dengan duri mawar merah cinta. Getar hatiku ketika Iman-ku bagai pohon yang tak memiliki akar, mendengar ceramah Pak Ustaz yang membangun menara keimanan, membuatku jauh dari segala kemungkaran. Pagi hari seharusnya menjadi Indah, namun kini kontradiksi, kini yang berguna menjadi nista, yang nisbi menjadi samar.